Wednesday, 5 July 2017

Cerita Pendek tentang Pertemuan Tak Terduga

Tak rindukah dengan raut wajah yang pernah kau tampar
Bukankah seharusnya membiarkan tangan kita saling berjabat walau hanya sebentar
Bukannya justru tanganmu kau buat menutupi sebagian wajah cantikmu

Rugikah jika tersenyum sedikit saja
Walau untuk orang yang tidak pantas mendapatkannya
Atau haruskah kubertanya seberapa mahal harga senyuman itu sekarang
Jangan kira aku tidak bisa membelinya
Hingga kau lebih memilih menyimpannya di balik jemarimu
Menyimpannya jauh di dalam lubuk hatimu
Padahal di dalam lubuk hatimu jelas-jelas sudah tidak lagi tersimpan namaku
Padahal senyummu bisa jadi adalah obat terakhir untuk luka yang selama ini kuderita

Nyaris aku hendak berbicara dengan bahumu setelah kau benar-benar jauh berpaling
Itu pasti benar-benar terjadi jika tidak ada tangan yang mendampingmu
Dan karena aku tidak mau tangan itu ikut menaruh kenangan di wajahku
Sudah cukup bekas luka darimu saja yang membekas di pipi ini

Thursday, 29 June 2017

Aku dan Surabaya

Membuat kisah baru
Meninggalkan masa lalu

Mungkin aku masih merindukan aroma pagi yang dulu
Di samping secangkir kopi  aku ramah menyapa
Tidak peduli debu tidak peduli rindu
Aku terlihat begitu terbiasa

Namun pagi ini surabaya tidak memiliki apa-apa kecuali terik mentari
Tidak kutemukan titik rindu sedikitpun
Hanya debu jalanan yang tidak sengaja terlempar di depanku

Mungkin aku sudah bisa melupakan
Atau barangkali aku yang menua
Sudah tak diizinkan lagi mengingat masa yang menyakitkan 

Nyaris aku akan tertidur di bawah langit kelabu tanpa ada yang mengucapkan selamat malam sebelumnya
Jelas ini sudah berdeda
Tidak seperti dulu kala

Yang penting apa yang sesungguhnya kukejar di pagi hari masih menanti di akhir senja
Senja di surabaya

Thursday, 6 April 2017

Trilogy Rintik Hujan

Segelap apapun mendung tidak akan peduli dengan kerinduan
Sederas apapun hujannya tidak akan peduli dengan sebuah harapan
Apa lagi dengan pahitnya kenyataan

Aku bukan pecinta rintik hujan
Walau separuh perjalananku kutempuh dibawah mendung

Kerinduan yang datang padaku juga bukan efek dari hujan yang turun
Bahkan bukan karena siapapun
Walaupun aku telah ditinggalkan oleh orang yang pernah berteduh di payung yang sama

Bukan berarti aku tidak bisa melupakannya
Tetapi masa lalu dan hujan seperti jatuh di tempat yang sama
Walaupun mendung tidak pernah berjanji dengan waktu kapan hujan akan tiba

Cita-cita dan harapan juga tidak jatuh dari awan
Walau terkadang kulihat justru berderai diantara rintik hujan
Tetapi masa depanku tidak akan terhenti hanya karena terpesona dengan rinai yang jatuh dari tepi dedaunan

Langit sore akan mengakui kehebatan air yang jatuh dari awan
Malam juga tidak akan menjadi milik bintang dan segenap cahayanya yang biasanya menawan
Sehebat inilah hujan
Melukiskan kenyataan menjadi terlihat begitu menyakitkan

Dan...
Mendung adalah satu-satunya masa lalu yang dimiliki hujan
Namun sebagai mana kenangan pasti juga akan terlupakan
Begitulah kenyataan